Kamis, 19 November 2009

Tata Cara Mitoni / Tingkeban


Tumpeng Selamatan

UBO RAMPE MITONI/TINGKEBAN

(Selamatan Tujuh Bulanan)

Mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu. Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

PERSYARATAN :

1. Bubur 7 macam :

Kombinasi 7 macam; (1) bubur merah (2) bubur putih (3) merah ditumpangi putih, (4) putih ditumpangi merah, (5) putih disilang merah, (6) merah disilang putih, (7) baro-baro (bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).

Bubur putih dimakan oleh sang Ayah. Bubur merah dimakan sang Ibu. Bubur yang lain dimakan sekeluarga.


bubur7rupa

Bahan;

Bubur putih gurih (dimasak pake santen) dan bubur merah (dimasak pake gula jawa);

Bubur ditaruh di piring kecil-kecil;

2. Gudangan Mateng (sayurnya direbus) :

Bahan ; Sayur 7 macam; harus ada kangkung dan kacang. Kangkung dan kacang panjang jangan dipotong-potong, dibiarkan panjang saja. Semua sayuran direbus.

Bumbu gudangannya pedas.

3. Nasi Megono ; Nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus.

4. Jajan Pasar ; biasanya berisi 7 macam makanan jajanan pasar tradisional.

5. Rujak ; bumbunya pedas dengan 7 macam buah-buahan.

6. Ampyang ; ampyang kacang, ampyang wijen dll (7 macam ampyang). Apabila kesulitan mendapatkan 7 macam ampyang, boleh sedapatnya saja.

7. Aneka Ragam Kolo ;

Kolo kependem (kacang tanah, singkong, talas), kolo gumantung (pepaya), kolo merambat (ubi/ketela rambat); kacang tanah, singkong, talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. Pepaya yang sudah masak. Masing-masing jenis kolo tidak harus semua, tetapi bisa dipilih salah satu saja. Misalnya kolo kependhem; ambil saja salah satu misalnya kacang tanah. Jika kesulitn mencari kolo yang lain; yang penting ada dua macam kolo ; yakni cangelo; kacang tanah + ketela (ubi jalar).

8. Ketan ; dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel (diameter 3-4 cm); warna putih, merah, hijau, coklat, kuning.

9. Tumpeng nasi putih; kira-kira cukup untuk makan 7 atau 11, atau 17 orang.

10. Telur ; telur ayam 7 butir.

11. Pisang ; pisang raja dan pisang raja pulut masing-masing satu lirang/sisir.

12. Tumpeng tujuh macam warna; tumpeng dibuat kecil-kecil dengan warna yang berbeda-beda. Bahan nasi biasa yang diwarnai.

TATA CARA

Tumpeng ditaruh di atas kalo (saringan santan yang baru). Bawahnya tumpeng dialasi daun pisang. Di bawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. Sisa potongan daun pisang diletakkan di antara cobek dan pantat kalo.

Sayur 7 macam direbus diletakkan mengelilingi tumpeng, letakkan bumbu gudangannya melingkari tumpeng juga. Telur ayam (boleh ayam kampung atau ayam petelur) jumlahnya 7 butir, direbus lalu dikupas, diletakkan mengelilingi tumpeng. Masing-masing telur boleh di belah jadi dua. Pucuk tumpeng dikasih sate yang berisi ; cabe merah, bawang merah, telur utuh dikupas kulitnya, cabe merah besar, tancapkan vertikal. (urutan ini dari bawah ke atas; lihat gambar).

Tusuk satenya dari bambu, posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah; cabe merah besar posisi horisontal, bawang merah dikupas, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe merah besar posisi vertikal.

Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg lebar.

Tambirnya juga yg baru, jangan bekas. Tampah “pantatnya” rata datar, sedangkan tambir pantatnya sedikit agak cembung.

Tumpeng tujuh macam warna ukuran mini, ditaruh mengelilingi tumpeng besar. Boleh diletakkan di atas sayuran yang mengelilingi tumpeng besar.

Setelah ubo rampe semua selesai disiapkan, maka dimulailah berdoa. Doa boleh dengan tata cara atau agama masing-masing. Inilah fleksibilitas dan toleransi dalam ajaran Jawa.

Berikut ini contoh doa menurut tradisi Jawa;

Diucapkan oleh orang tua jabang bayi (ayah dan ibu);

“Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani marang sesama, ambeg utama, yen lanang kadya Raden Komajaya, yen wadon kadya Dewi Komaratih..kabeh saka kersaning Gusti Allah.

Apabila orang tua beragama Islam, setelah doa secara tradisi, lalu bacakan surat Maryam atau surat Yusuf. Pilih di antara keduanya sesuai keinginan hati nurani. Jika feeling anda ingin membaca surat Maryam, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila yang dibaca surat Yusuf, biasanya jabang bayi lahir laki-laki.

Dalam tradisi Jawa, yang membuat bumbu rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila tidak kasinen (kebanyakan garam), biasanya lahir laki-laki.

Akan tetapi karna teknologi medis sudah sedemikian canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi, jenis kelamin bayi sudah dapat diketahui lebih dini.

Acara mitoni atau tingkeban yang kami paparkan di atas adalah tatacara sederhana. Akan tetapi bukan berarti tidak absah, hanya tidak lengkap saja. Sedangkan tatacara yang lengkap yang biasanya masih dilakukan di kraton-kraton dan masyarakat Jawa yang masih kuat memegang tradisi. Rangkaian acara untuk upacara mitoni secara lengkap urut-urutannya yaitu;

Siraman, memasukkan telor ayam kampung di dalam kain calon ibu dilakukan oleh calon bapak, ganti baju tujuh kali, brojolan (memasukkan kelapa gading muda), memutus benang lawe atau lilitan benang (atau janur), memecah wajan dan gayung, mencuri telor dan terakhir kendhuri.

Catatan;

Acara siraman hanya diselenggarakan untuk mitoni anak pertama.

Selamat melaksanakan mitoni atau tingkeban semoga menjadi anak yang linuwih, mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua, berguna untuk sesama, masyarakat, agama, dan negara.

LAKSITA JATI; Meraih Kasampurnan Hidup

LAKSITA JATI

Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma.

Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:

“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa”.

Sebagai contoh :

Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya. Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.

Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

  1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
  2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
  3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
  4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
  5. Sukma atau ruh (Ruhullah).

No 1 s/d no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan “perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.

KONSEP ARWAH PENASARAN

Sebaliknya ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.

JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN

(Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil)

Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :

“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi”

(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang harus dicegah, yakni;

1. Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.

2. Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.

3. Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.

4. Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.

5. Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.

6. Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.

7. Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang, walaupun sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

1. Mengumbar hawa nafsu.

2. Mengumbar kesenangan.

3. Suka bermusuhan dan tindak aniaya.

4. Berulah yang meresahkan.

5. Tindakan nista.

6. Perbuatan dengki hati.

7. Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.

8. Enggan menderita dan prihatin.

Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

1. Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.

2. Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.

3. Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.

4. Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.

PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,

Siapa menanam, akan mengetam,

Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,

Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.

Orang pelit, pailit

Pemurah hati, mukti

PERILAKU TAPA BRATA

Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;

1. Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.

2. Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka buruk, tidak iri hati.

3. Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang lain.

4. Tapa/puasanya sukma; jujur.

5. Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

6. Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.

7. Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.

Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

1. Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.

2. Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.

3. Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.

4. Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang lain.

5. Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan ngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.

6. Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.

7. Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.

Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.

(Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusia pinunjul harus;

1. Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

2. Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara

3. Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;

1. Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

2. Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

3. Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

4. Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

5. Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

1. Zamannya kemelaratan, dimulai dari perilaku boros

2. Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

3. Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

4. Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

5. Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

6. Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

7. Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.

Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”, lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni;

1. Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.

2. Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.

3. Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

4. Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.

5. Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.

6. Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.

7. Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo, legowo, tapa.

SHALAT/SEMBAHYANG DHAIM

Sebagai tulisan penutup, Sabdalangit berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi para pembaca yang masih awam tentang ajaran Kejawen.

Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden) yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati, tumbuhnya “tidak punya rasa punya”, tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang.

Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb;

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”

Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri. Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian. Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah (shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan;

“salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG APA AGAMANYA.

Wulang Sunu


WULANG SUNU

(NASEHAT MULIA UNTUK ANAK)

Karya ISKS Pakubuwana IV

1

Wulang sunu kang kinarya gendhing,

kang pinurwa tataning ngawula,

(suwita) ing wong tuwane,

poma padha mituhu,

ing pitutur kang muni tulis,

sapa kang tan nuruta saujareng tutur,

tan urung kasurang-surang,

(donya) ngakir tan urung manggih billahi,

tembe matine nraka.

Wulang Sunu yang digubah dalam tembang,

Yang berisi tuntunan dalam berbakti,

mengabdi kepada orang tua,

maka perhatikanlah,

nasehat yang tertulis,

siapa yang tidak menuruti kata-kata nasehat,

akhirnya terlunta-lunta,

di zaman akhir akan mendapat celaka,

kelak matinya tersiksa.

2

Mapan sira mangke anglampahi,

ing pitutur kang muni ing (layang),

pasti becik setemahe,

bekti mring rama ibu duk purwa sira udani,

karya becik lan ala,

saking rama ibu,

duk siro tasih jajabang,

ibu iro kalangkung lara prihatin,

rumeksa maring siro.

Jikalau kamu sudi menjalani,

Nasehat berarti di atas kertas,

Pasti akan baik dalam urusan apa saja,

Berbakti pada ayah ibu

yang dulu kamu …

berbuat baik dan buruk,

dari ayah ibu,

saat kamu masih dalam kandungan,

ibumu lebih menderita dalam prihatin,

dalam menjaga & memeliharamu

3

Nora eco (dahar) lawan ghuling,

ibu niro rumekso ing siro,

dahar sekul uyah bae,

tan ketang wejah luntur,

nyakot bathok dipun lampahi,

saben ri mring bengawan,

pilis singgul kalampahan,

ibu niri rumekso duk siro alit,

mulane den rumongso.

Tidak enak untuk makan dan tidur,

Ibumu selalu mengidamkanmu,

Makan nasi garam saja,

Walaupun hanya minum jamu menyusui,

Menggigit tempurung pun dijalani,

Setiap hari ke sungai,

Pilis (bubuk jamu ditempel di jidat) singgul (bubuk jamu ditempel di kening) dilakoni,

Ibu selalu merawat sejak kamu kecil,

Maka rasakanlah (berimpati)

4

Dhaharira mangke pahit getir,

ibu niro rumekso ing sira,

nora ketang turu samben,

tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi,

lamun sira wawratana,

tinatur pinangku,

cinowekan ibu nira,

dipun dusi esok sore nganti resik,

lamun luwe dinulang

Makananmu nanti pahit getir,

Ibumu selalu merawat dirimu,

tidurnya sekedar sambilan (tidak nyenyak),

walau harus basah kuyup air kencingmu,

berlepotan tai tetep dijalani,

Bila kamu ingin kencing,

Kencing sambil dipangku (tatur), beralaskan ibumu,

Dimandikan pagi sore sampai bersih,

Bila lapar disuapi

5

Duk sira ngumur sangang waresi,

pasti siro yen bisa rumangkang,

ibumu momong karsane,

tan ketang gombal tepung,

rumeksane duk sira alit,

yen sira kirang pangan nora ketang nubruk,

mengko sira wus (diwasa),

nora ana pamalesira,

ngabekti tuhu sira niaya.

Waktu kau umur sembilan bulan,

Pasti kau bisa merangkak,

Ibumu tetap mengasuh,

Walaupun apa adanya,

Merawat saat kamu kecil,

Bila kau kurang pangan,

Dipenuhi walau harus ngutang,

Kelak bila kau sudah dewasa tiada balas-budimu,

Sungguh kamu menganiaya.

6

Lamun sira mangke anglampahi,

nganiaya ing wong tuwanira,

ingukum dening Hyang Manon,

tembe yen lamun lampus,

datan wurung pulang lan geni,

yen wong durakeng rena,

sanget siksanipun,

mulane wewekas ingwang,

aja wani dhateng ibu rama kaki,

prentahe lakonano.

Bila kelak kamu tetap lakukan,

menganiaya orang tuamu,

bakal dihukum Tuhan,

kelak bila ajal tiba,

akhirnya juga mendapat siksa,

bila orang durhaka kepada ibu,

siksaannya berat sekali,

maka wasiat ku,

jangan berani kepada ibu, dan ayah..anak ku,

perintahnya laksanakan.

7

Parandene mangke sira iki,

yen den wulang dhateng ibu rama,

sok balawanan ucape,

sumahir bali mungkur,

iya iku cegahen kaki,

tan becik temahira,

donya keratipun,

tan wurung kasurang-kasurang,

tembe mati sinatru dening Hyang widhi,

siniksa ing “Malekat”.

Kenapa kamu ini,

Bila diajari ibu bapa,

Ucapanmu sering membantah,

Berlagak sudah mahir sambil membelakangi,

Hindarilah sikap itu anakku,

Tidak baik yang akan kau dapatkan,

Dunia akhiratnya,

Toh akhirnya terlunta-lunta,

Kelak akan mati sebagai seteru Tuhan,

Disiksa “malaikat”.

8

Yen wong anom ingkang anastiti,

tan mangkana ing pamang gihira,

den wulang ibu ramane,

asilo anem ayun,

wong tuwane kinaryo Gusti,

lungo teko anembah iku budi luhung,

serta bekti ing sukma,

hiyo iku kang karyo pati lan urip,

miwah sandhang lan pangan.

Bagi anak muda yang patuh,

Bukan begitu sikapmu,

Dibimbing ibu bapanya,

Sikapnya sopan menghargai,

Orang tuanya sebagai “wakil” Tuhan,

Datang-pergi selalu menghormat,

Seperti itu budi-pekerti yang luhur,

Serta berbakti pada Hyang Suksma, yakni Yang Kuasa mematikan dan menghidupkan,

Termasuk sandang dan pangan.

9

Kang wus kaprah nonoman samangke,

anggulang polah,

malang sumirang,

ngisisaken ing wisese,

andadar polah dlurung,

mutingkrang polah mutingkring,

matengkus polah tingkrak,

kantara raganipun,

lampahe same lelewa,

yen gununggung sarirane anjenthit,

ngorekken wong kathah.

Kelak, bagi pemuda yang sudah salah kaprah,

Banyak bertingkah,

malang melintang tidak karuan,

membiarkan diri dalam kenistaan,

wataknya sombong tinggi hati,

suka memamerkan keelokan tubuhnya,

lagaknya acuh tak acuh,

mudah tersinggung,

meresahkan banyak orang

10

Poma aja na nglakoni,

ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe,

kasuluh solahipun,

tan kuwama solah kang silip,

semune ingeseman ing sasaminipun,

mulane ta awakingwang,

poma aja na polah kang silip,

samya brongta ing lampah.

Maka jangan ada yang mengalami, tingkah laku nista,

Yang salah pasti bakal menanggung malu, ketahuan boroknya, tak ada yang bisa luput,

setiap sikap lacur,

berlagak ramah pada sesama,

ingatlah..anakku,

jangan sampai mempunyai perilaku lacur,

prihatinlah dalam setiap langkah.

11

Lawan malih wekas ingsun kaki,

kalamun sira andarbe karsa,

aja sira tinggal bote,

murwaten lan ragamu,

lamun derajatiro alit,

aja ambek kuwawa,

lamun siro luhur,

den prawira anggepiro,

dipun sabar jatmiko alus ing budi,

iku lampah utama.

Dan sekali lagi wasiat ingsun..anakku,

Bilamana kalian mempunyai keinginan,

Pertimbangkan dengan cermat,

Jagalah dirimu,

Bila pangkatmu kecil,

Jangan bertingkah (sok) kuasa,

Bila kalian terhormat,

Besikap sabar, bagus dan halus budi pekertinya,

Itulah perilaku utama.

12

Pramilane nonoman puniki,

den taberi jagong lan wong tuwa,

ingkang becik pituture,

tan sira temahipun,

apan bathin kalawan lahir,

lahire tatakromo,

bathine bekti mring tuhu,

mula eta wekasing wong,

sakathahe anak putu buyut mami,

den samya brongta lampah.

Mangkanya jadi anak muda itu

jangan sungkan bergaul dengan orang tua (matang ilmunya),

yang bagus nasehatnya,

bukan kalian bandingannya,

sekalipun batin maupun lahir,

lahirnya menjaga tata krama,

batinnya mengabdi pada kesetiaan,

itulah wasiatku,

semua anak cucu buyut ku,

kalian terapkan perilaku mulia.